Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Tazkiyatun Nafs: Jalan Menuju Kesuksesan yang Hakiki


TAKLIM, Hidayatullahmalut.or.id
-- Dalam kajian Tazkiyatun Nafs, Ust. Dr. La Ode Ilman, Lc., M.Pd mengingatkan bahwa ukuran kesuksesan dalam pandangan manusia sering kali diukur dengan jabatan, kekayaan, popularitas, dan kedudukan. 

Padahal Allah memiliki standar yang berbeda. Kesuksesan yang sesungguhnya bukan hanya berhasil meraih dunia, tetapi berhasil menyelamatkan dan mensucikan jiwa hingga menghadap Allah dengan hati yang bersih. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya."(QS. Asy-Syams: 9-10)

Ayat ini menjadi pondasi utama dalam pembahasan Tazkiyatun Nafs. Allah tidak mengatakan bahwa beruntunglah orang yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa. Namun Allah menegaskan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang berusaha membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Karena itu, seseorang boleh menjadi apa saja dalam kehidupan ini. Menjadi guru, pedagang, pejabat, pengusaha, ulama, bahkan tentara. Namun yang paling penting adalah menjadi pribadi yang baik dalam profesi dan amanah yang diembannya. 

Ketika menjadi pemimpin, ia memimpin dengan adil. Ketika menjadi pedagang, ia berdagang dengan jujur. Ketika menjadi tentara, ia menjadi tentara yang menjaga iman dan akhlaknya.

Salah satu sosok yang patut dijadikan teladan adalah Jenderal Sudirman. Beliau bukan hanya dikenal sebagai panglima besar yang memimpin perjuangan bangsa, tetapi juga dikenal sebagai pribadi yang kuat hubungan spiritualnya dengan Allah.

Ada tiga "azimat" yang selalu beliau pegang dalam kehidupannya: menjaga shalat lima waktu, menjaga wudhu, dan senantiasa ikhlas dalam perjuangan.

Ketiga amalan tersebut sejatinya merupakan sumber kekuatan seorang mukmin. Sebab kemenangan dan kemuliaan tidak hanya lahir dari kecerdasan strategi, tetapi juga dari kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ia menegaskan bahwa tiga "azimat" yang dimiliki seorang Jenderal Sudirman mestinya menjadi kurikulum bagi TNI saat ini.

Bahaya Persepsi: "Yang Penting Baik kepada Sesama, Tidak Shalat Tidak Apa-Apa"

Di tengah masyarakat sering muncul anggapan bahwa yang terpenting adalah berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan shalat dianggap tidak terlalu penting. Bahkan ada yang berkata, "Saya memang tidak shalat, tetapi saya baik kepada orang lain."

Padahal logika tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Jika manusia terbaik sepanjang sejarah, Rasulullah ﷺ, tetap menjaga shalat dengan sempurna, lalu siapa kita yang berani meremehkannya? Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 103). Rasulullah ﷺ juga bersabda:

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ

"Pokok segala urusan adalah Islam dan tiangnya adalah shalat." (HR. Tirmidzi)

Shalat bukan sekadar ritual, tetapi bukti penghambaan kepada Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Allah namun meninggalkan kewajiban terbesar setelah syahadat.

Bahkan ketika kaki Rasulullah ﷺ bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat malam, Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya:

"Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?" Beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

"Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Rasulullah ﷺ yang telah dijamin surga saja begitu menjaga shalatnya, maka betapa tidak pantasnya kita yang belum mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita justru bermalas-malasan dalam mendirikannya.

Shalat Bukan Urusan Pribadi Semata

Ada pula anggapan bahwa shalat adalah urusan pribadi sehingga tidak boleh diingatkan oleh orang lain. Padahal Islam mengajarkan tanggung jawab sosial dalam kebaikan Allah SWT berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)

Dalam ayat lain Allah memuji Nabi Ismail 'alaihis salam:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ

"Dan dia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat." (QS. Maryam: 55)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang ayah, suami, guru, pengasuh, dan pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengajak serta membimbing keluarganya dalam mendirikan shalat.

Karena itu, keberhasilan pendidikan dalam keluarga bukan hanya ketika anak berhasil secara akademik, tetapi ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang menjaga shalat dan memiliki hubungan yang baik dengan Allah.

Tazkiyatun Nafs Menuntut Kesungguhan

Menyucikan jiwa tidak bisa dicapai dengan usaha yang setengah-setengah. Dibutuhkan kesungguhan dan target ibadah yang maksimal.

Contohnya adalah seseorang yang berusaha hadir di masjid sebelum adzan Subuh berkumandang. Ia menyambut panggilan muadzin, melaksanakan sunnah qabliyah, menjaga shalat berjamaah di awal waktu, berdzikir, membaca Al-Qur'an, lalu menyempurnakannya dengan shalat Isyraq.

Tentu apresiasi dan kualitas ruhani orang seperti ini berbeda dengan orang yang selalu datang terlambat, terburu-buru, bahkan sering meninggalkan shalat berjamaah Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69)

Semakin besar kesungguhan seseorang dalam mendekat kepada Allah, semakin besar pula peluang hatinya menjadi bersih dan bercahaya.

Hati yang Bersih dan Hati yang Kotor

Hati yang bersih akan mudah menerima nasihat, mencintai kebaikan, dan membenci kemaksiatan. Sebaliknya, hati yang kotor akan mudah tertarik kepada keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang hatinya dipenuhi iman akan senang berada di majelis ilmu, senang berzikir, senang membaca Al-Qur'an, dan senang berbuat baik. Sebaliknya, hati yang dipenuhi penyakit akan mudah tertarik kepada kemaksiatan, ghibah, fitnah, serta berbagai perbuatan yang dimurkai Allah.

Karena itu para pendidik, pengasuh, dan pemimpin harus menjaga hati mereka dengan sungguh-sungguh. Sebab keteladanan lahir dari kebersihan hati. 

Ketika Allah telah memberikan kedudukan yang baik, amanah yang mulia, dan kepercayaan dari masyarakat, jangan sampai semua itu ternoda oleh perbuatan yang mengundang murka-Nya.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan, yaitu menghadap Allah dengan hati yang selamat. Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)

Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati-hati kita, menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam shalat, menjaga keikhlasan dalam setiap amal, menjauhkan kita dari penyakit hati yang mengotori jiwa, serta mengumpulkan kita kelak bersama orang-orang saleh di dalam surga-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

*Intisari resume materi taklim malam jum'at oleh Ust. Dr. La Ode Ilman, Lc., M.Pd