Mendakwahkan dan mengamalkan Islam merupakan karakter manusia terbaik. Karakter yang hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman yang mentotalitaskan dirinya untuk dakwah Islam.
Seseorang menjadi manusia terbaik bukan sekadar karena mampu memahami teks wahyu, tetapi karena mampu mentransformasikan pemahaman wahyu tersebut ke dalam kehidupan nyata. Ia menjaga kepribadiannya, konsisten dalam amal, hingga menjadi agen perubahan.
Dari tangannya lahir transformasi
peradaban, mengubah kehidupan jahiliah menuju perubahan yang berasaskan Islam.
Namun, perjuangan itu bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana.
Proses transformasi tersebut berlangsung dalam medan pertarungan antara ilham takwa dan fujur. Untuk memenangkan pertarungan itu, manusia harus memiliki kualitas iman, takwa, dan ilmu yang kuat.
Di sisi lain,
ia juga harus memiliki kesadaran bahwa setan adalah musuh yang nyata. Setan
senantiasa mengintai para mujahid dakwah agar berpaling dari tujuan dan jalan
perjuangannya.
Hal ini menjadi pertanda bahwa manusia yang memilih hidup
untuk dakwah dan tarbiyah tidak berada dalam ruang moral yang netral dan
nyaman. Tidak ada jalan perjuangan tanpa godaan, ujian, dan tantangan yang
mengiringi amanah tersebut.
Medan dakwah pada hakikatnya adalah pertarungan antara idealitas pemahaman teks wahyu dengan transformasi wahyu hingga terwujud dalam realitas amal.
Ia juga merupakan pertarungan antara kesempurnaan konsep Islam
dengan upaya menghadirkan kehidupan Islami di tengah berbagai tantangan dan
ujian.
Al-Qur'an menggambarkan adanya dua kecenderungan yang
ditanamkan dalam diri manusia:
فَأَلْهَمَهَا
فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
"Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan
ketakwaannya."
(QS. Asy-Syams: 8)
Dengan demikian, perjalanan manusia setelah memperoleh petunjuk untuk menjadi manusia terbaik bukanlah perjalanan yang mudah dan bebas hambatan. Manusia pejuang kebenaran adalah pejuang hakiki dan abadi.
Al-Qur'an
dan Sunnah Rasulullah ﷺ
akan terus hidup sepanjang masih ada para penegak kebenaran yang
memperjuangkannya.
Keabadian pertarungan itu terjadi karena manusia menghadapi dua medan sekaligus: pertarungan internal dan pertarungan eksternal. Pertarungan internal terjadi antara kecenderungan menuju takwa dan kecenderungan menuju fujur.
Sementara pertarungan eksternal hadir melalui
berbagai godaan, tekanan, dan tipu daya yang menjauhkan manusia dari jalan
Allah.
Namun, bagi pejuang kebenaran yang senantiasa menjaga iman dan takwanya serta terus melakukan mujahadah dalam bimbingan wahyu dan Sunnah Rasulullah ﷺ, kemenangan akan selalu mungkin diraih.
Sebab kemenangan bukanlah ketika manusia
terbebas sepenuhnya dari fujur, melainkan ketika ia memilih takwa setiap kali
berhadapan dengan fujur.
Pertarungan antara takwa dan fujur akan terus berlangsung
sepanjang kehidupan manusia. Akan tetapi, kemenangan pada akhirnya selalu
berpihak kepada mereka yang beriman, bertakwa, berjihad melawan dirinya
sendiri, dan istiqamah menegakkan kebenaran berdasarkan wahyu dan Sunnah.
Karakter sejati manusia pejuang kebenaran bukanlah manusia
yang tidak pernah jatuh, melainkan manusia yang selalu kembali kepada Allah,
memperbaiki dirinya, dan terus memenangkan takwa atas fujur dalam setiap
episode kehidupannya.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Malut Periode 2026-2030*
