Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Al-‘Alaq: Pintu Memahami Manhaj Nubuwwah


TAKLIM
, Surah Al-‘Alaq merupakan salah satu pintu penting untuk memahami manhaj nubuwwah, yaitu cara Allah membentuk manusia melalui wahyu, ilmu, akhlak, dan amal. Lima ayat pertama surah ini merupakan wahyu awal yang diterima Rasulullah ﷺ dan dimulai dengan perintah yang sangat mendasar: iqra’ atau membaca.  

Allah berfirman, 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5).

Perintah membaca dalam ayat ini bukan sekadar membaca tulisan secara tekstual, tetapi membaca dengan kesadaran bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan dan mengajarkan manusia. 

Karena itu, iqra’ dalam Islam mencakup membaca ayat-ayat qauliyah melalui Al-Qur’an dan membaca ayat-ayat kauniyah melalui alam, kehidupan, serta diri manusia. Pesan tersebut semakin kuat ketika manusia diingatkan tentang asal-usul dirinya. Allah berfirman,

 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78). 

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia pada awalnya tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah mengajarkan ilmu melalui berbagai sarana. 

Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong atas ilmu, jabatan, harta, atau kemampuan yang dimilikinya. Bahkan semakin banyak yang diketahui seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa semua itu adalah karunia Allah. 

Iqra’ bismirabbik berarti belajar dengan kesadaran Rabbani: ilmu bukan untuk membesarkan ego, melainkan untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, dan menunaikan amanah kehidupan.

Manhaj nubuwwah juga terlihat jelas dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Beliau SAW. lahir dalam keadaan yatim dan menjalani kehidupan yang penuh tantangan sebelum kemudian diangkat menjadi Rasul dan pemimpin umat. Allah berfirman, 

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ ۝ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ ۝ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ 

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang belum mendapat petunjuk, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Duha: 6–8). 

Dalam perjalanan tersebut, Allah membentuk Rasulullah ﷺ menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang agung. Allah menegaskan, 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ, 

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4). 

Akhlak inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama kepemimpinan Nabi SAW.  Para sahabat mengikuti Rasulullah ﷺ bukan hanya karena ajaran yang beliau SAW. sampaikan, tetapi juga karena mereka menyaksikan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, keberanian, dan keteladanan beliau SAW. dalam kehidupan sehari-hari.

Surah Al-‘Alaq kemudian memberikan peringatan bahwa ilmu dan keberhasilan dapat menjadi sumber kesombongan apabila manusia lupa kepada Allah. Allah berfirman, 

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ, 

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7). 

Ayat ini sangat relevan bagi kehidupan manusia, termasuk dalam organisasi, pendidikan, dakwah, dan amal usaha. Ketika seseorang mendapatkan ilmu, jabatan, harta, atau pengaruh, ia harus menyadari bahwa semuanya merupakan amanah Allah. Allah berfirman, 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ, 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58). 


Dengan demikian, jabatan,  bukan alasan untuk merasa lebih tinggi, melainkan kesempatan untuk belajar, melayani, dan mempertanggungjawabkan amanah kepada Allah. 

Orang yang memahami iqra’ bismirabbik akan terus belajar dari amanah yang diterimanya dan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk memperbaiki diri serta memberi manfaat kepada orang lain.

Puncak pesan Surah Al-‘Alaq terdapat pada ayat terakhir yang menghubungkan seluruh proses membaca, belajar, dan menjalankan amanah dengan kedekatan kepada Allah. Allah berfirman, 

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ, 

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-‘Alaq: 19). 

Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan iqra’ tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Ilmu harus melahirkan iman, iman melahirkan akhlak, akhlak melahirkan amanah, dan amanah mengantarkan manusia kepada ketundukan. 

Dengan demikian, Al-‘Alaq adalah pintu memahami manhaj nubuwwah: dimulai dengan “اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ” (Bacalah dengan nama Tuhanmu) dan berakhir dengan “وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ” (bersujudlah dan mendekatlah). 

Semakin benar seseorang membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah, semakin ia mengenal kebesaran Allah; semakin mengenal Allah, semakin tawadhu dirinya, semakin dekat ia kepada-Nya. 

Inilah hakikat iqra’ bismirabbik: membaca untuk mengetahui, mengetahui untuk beriman, beriman untuk beramal, dan beramal untuk mendekat kepada Allah SWT. Wallahu a'lam.

*Resume intisari materi taklim malam oleh Ust. Nasri Buhori, jum'at (27-08-2026/14 Rab'ul Awwal 1448 H).