Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Dengan Ilmu, Manusia Bisa Menjadi Malaikat atau Menjadi Iblis


Taklim, Hidayatullahmalut.or.id
-- Ilmu adalah anugerah besar dari Allah. Namun ilmu tidak selalu mengantarkan seseorang kepada kemuliaan.

Ilmu yang diimbangi dengan adab, tazkiyah (penyucian jiwa), dan ketakwaan akan mengangkat manusia ke derajat yang sangat mulia.

Sebaliknya, ilmu yang tidak disertai penyucian diri dan kerendahan hati dapat menjerumuskan manusia pada kesombongan sebagaimana iblis.

Karena itu, ilmu dapat mengantarkan manusia menjadi seperti malaikat dalam ketaatan, atau seperti iblis dalam kesombongan.

Mengapa Malaikat Taat kepada Nabi Adam?

Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam a.s., mereka langsung taat tanpa membantah.

 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam', maka mereka pun sujud kecuali Iblis." (QS. Al-Baqarah: 34

Malaikat mau sujud karena mereka memahami perintah Allah dan senantiasa mensucikan-Nya. Mereka juga menyucikan diri mereka dan bersih dari kesombongan.

وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

"Kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan mensucikan-Mu." (QS. Al-Baqarah: 30)

Sehingga kemuliaan lahir dari ketaatan, kesucian hati, dan ketundukan kepada Allah.

Manusia Bisa Lebih Tinggi dari Malaikat

Keistimewaan manusia bukan pada fisiknya, tetapi pada ilmu dan adab yang Allah karuniakan. Allah SWT. berfirman:

 وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

"…dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya." (QS. Al-Baqarah: 31)

Ilmu yang disertai adab menjadikan manusia mampu mengenal Allah, mengendalikan hawa nafsu, dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. 

Karena itulah manusia berpotensi memiliki derajat lebih tinggi daripada malaikat. Ilmu menjadi cahaya yang membimbing kehidupan manusia sebagai hamba dan khalifah di bumi. 

Mengapa Iblis Terjatuh?

Iblis bukan karena tidak berilmu. Ia mengenal Allah, mengetahui perintah-Nya, bahkan pernah beribadah. Namun ilmunya tidak dibarengi tazkiyah dan tawadhu'.

Karenanya iblis merasa dirinya lebih mulia dari nabi Adam as. sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Qur’an:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

"Aku lebih baik darinya." (QS. Al-A'raf: 12)

Kesalahan iblis bukan pada kurangnya ilmu, tetapi pada kesombongannya. Dapat dikatakan bahwa malaikat memahami "Iqra' Bismi Rabbik" (membaca dengan menyertakan Allah), sedangkan iblis hanya "iqra'" tanpa menghadirkan Rabbnya. Akibatnya, ilmu melahirkan kesombongan, bukan ketundukan dan ketaatan.

Agar ilmu mengangkat derajat manusia dan tidak menjerumuskannya, diperlukan beberapa hal yakni, adab; Ilmu tanpa adab akan melahirkan kerusakan. Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Diri); Membersihkan hati dari riya', hasad, ujub, dan cinta dunia. Tawadhu'; Semakin tinggi ilmu, semakin rendah hati.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama."(QS. Fathir: 28)

Indikator Keberhasilan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam tidak hanya melahirkan orang berilmu atau pintar, tetapi juga orang yang beriman, berakhlak, dan bermanfaat. Sehingga dalam tahapan Pendidikan ada yang disebut dengan Tarbiyah (التربية): yakni membina dan menumbuhkan seluruh potensi manusia menuju kebaikan. 

Kemudian Tazkiyah (التزكية): yakni mensucikan jiwa dari penyakit hati dan akhlak tercela. Serta Ta'lim (التعليم): Memberikan ilmu dan pengetahuan yang benar.

Ketiga unsur ini harus berjalan seimbang. Jika hanya ta'lim tanpa tazkiyah, maka lahirlah orang berilmu tetapi sombong seperti iblis. Jika ta'lim disertai tarbiyah dan tazkiyah, maka lahirlah pribadi yang berilmu, beradab, dan bertakwa.

Malaikat mulia karena ketaatan dan penyucian diri. Iblis terlaknat karena kesombongan meskipun berilmu.

Maka ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi sejauh mana ilmu itu melahirkan: adab yang baik, jiwa yang bersih, kerendahan hati serta ketaatan kepada Allah. Sebagaimana sebuah ungkapan menyebutkan:

العِلْمُ يَرْفَعُ صَاحِبَهُ إِذَا صَحِبَهُ الأَدَبُ وَالتَّوَاضُعُ، وَيُهْلِكُهُ إِذَا صَحِبَهُ الْكِبْرُ وَالْغُرُورُ

"Ilmu akan mengangkat pemiliknya apabila disertai adab dan tawadhu', namun akan membinasakannya apabila disertai kesombongan dan keangkuhan." 

*Resume Taklim Malam Jum'at oleh Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd di Masjid Baitul Hasan Kampus Hidayatullah Kalumata, Ternate.