Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Dakwah Tapal Batas, Dakwah Tanpa Batas: Menyemai Cahaya di Ujung Negeri


Oleh: Ust. Nasri Buhori, M.Pd*

Pernahkah Anda membayangkan berdiri di garis paling luar dan paling terpencil dari republik ini? Di tempat di mana peta geografi mulai memudar, sinyal seluler timbul tenggelam, bahkan Google Maps pun tak bisa dijadikan pemandu jalan.

Ditambah lagi dengan akses jalan yang sulit; aspal berganti menjadi jalan setapak berlumpur yang menantang nyali. Bagi sebagian orang, tempat-tempat ini terasa bagai menuju ujung dunia.

Namun, bagi para pejuang hisbah, wilayah ini adalah panggung utama dari sebuah perjuangan atas panggilan tugas mulia yang kita sebut sebagai **Dakwah Tapal Batas**.

Menjelajahi indahnya bumi Halmahera, misalnya, memberikan dinamika tersendiri bagi petualangan iman ini. Di tanah Maluku Utara yang eksotis ini, suka duka berdakwah bermula dari kesiapan fisik menelusuri birunya ujung batas laut dan samudra yang luas, menghadapi ombak yang kadang menguji nyali demi menyapa warga di pulau-pulau terpencil.

Namun, semua letih seolah terbayar lunas saat disuguhi lanskap alam yang megah serta senyum tulus warga pesisir yang menyambut kedatangan sang pembawa pelita agama dengan tangan terbuka.

Merambah Rimba, Mengetuk Pintu Hati

Tak jarang, rute dakwah ini harus bergeser dari asinnya air laut menuju lebatnya vegetasi hijau. Merambah lebih dalam ke jantung Halmahera, di hamparan hutan yang masih perawan, para dai mulai memasuki wilayah pedalaman rimba yang sunyi.

Di sinilah letak keindahan dakwah yang sesungguhnya, ketika mereka berjalan kaki berhari-hari menembus hutan belantara demi menemui beberapa suku terasing, seperti suku Togutil (atau suku Thogutil) yang hidup selaras dan seharmoni dengan alam.

Berinteraksi dengan mereka yang masih sangat murni pola hidupnya menuntut kesabaran ekstra dalam petualangan dakwah. Dibutuhkan kearifan yang mendalam dalam pendekatan budaya, serta keikhlasan yang nyaris tanpa batas.

Masyarakat di tapal batas sering kali lebih membutuhkan uluran tangan nyata daripada retorika yang muluk-muluk dan memukau di podium masjid besar maupun forum-forum bergengsi. 

Mereka membutuhkan kehadiran yang memberi solusi, bukan sekadar narasi yang menciptakan opini, termasuk yang ramai berseliweran di media sosial.

Oleh karena itu, para dai yang telah menghibahkan dirinya di lapangan dakwah harus mengantongi paket lengkap. Mereka adalah guru mengaji, penyuluh pertanian, sekaligus perawat dadakan yang siap hadir di tengah berbagai keterbatasan.

"Dakwah di tapal batas adalah seni membumikan langit. Kita tidak bisa bicara tentang indahnya surga kepada perut yang lapar, sebelum kita membawa solusi untuk mengenyangkannya."

Namun, rasa lelah seolah luruh saat melihat binar mata anak-anak pedalaman yang mulai lancar mengeja huruf hijaiyah. Atau ketika masyarakat suku terasing dapat menikmati paket daging kurban, memperoleh akses air bersih berkat gotong royong, hingga mulai belajar bercocok tanam dan perlahan meninggalkan pola hidup nomaden.

Ada rasa suka yang tak bisa dinilai dengan materi saat melihat seulas senyum terukir di wajah-wajah yang selama ini terisolasi dari peradaban modern. Kebahagiaan itu terasa lebih bermakna karena dilakoni dan diinisiasi oleh organisasi yang menjadikan dakwah sebagai salah satu program utamanya, yaitu Hidayatullah dan BMH Maluku Utara.

Menembus Sekat Menjadi Tanpa Batas

Jika kita melihat ruang lingkup geografisnya, dakwah ini memang berada di tapal batas yang sangat terisolasi. Namun, dari segi esensi dan pengaruhnya, ia menjelma menjadi dakwah tanpa batas.

Berkat sentuhan teknologi dan dokumentasi yang tulus, cerita-cerita perjuangan dari pesisir Halmahera hingga pedalaman rimba Togutil kini mampu mengetuk layar ponsel kita di kota-kota besar Nusantara.

Kisah keteguhan mereka meruntuhkan jarak psikologis. Kita yang terpisah ribuan kilometer tiba-tiba merasa terikat secara batin, lalu tergerak untuk mengirimkan doa, donasi, atau bahkan ikut terjun menjadi relawan.

Geliat dakwah di tapal batas mengajarkan kita satu hal penting: selama semangat di dalam dada masih menyala, sesulit apa pun medannya, apakah itu samudra yang berombak besar atau belantara Halmahera yang lebat, jarak dan ruang akan runtuh dengan sendirinya, berganti menjadi kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan.

Karena pada hakikatnya, esensi dari Dakwah Tapal Batas adalah mengetuk pintu hati yang selama ini terbatas oleh akses dan ilmu, menjadi hati yang tidak pernah memiliki batas untuk belajar dan berkembang.

Mengetuk hati yang merasa berat dan susah melangkahkan kaki untuk berdakwah hingga ke tapal batas, menjadi hati yang berbahagia menapaki jalan dakwah fii sabilillah tanpa batas. Yuk, ikut ambil peran!

*Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Malut 2026-2030