TIDORE (Hidayatullahmalut.or.id) — Sejumlah dai dari berbagai wilayah Indonesia Timur melakukan kunjungan silaturahim ke Kesultanan Tidore dalam rangkaian kegiatan Syawal, Jumat (3/4/2026). Kunjungan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus memperdalam pemahaman sejarah perjuangan Islam di kawasan timur Nusantara.
Rombongan terdiri atas dai Hidayatullah dari Palu, Gorontalo, Manado, serta wilayah Maluku Utara. Mereka disambut hangat oleh pihak Kesultanan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat silaturahim, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah. Dalam pertemuan tersebut, pihak Kesultanan memaparkan perjalanan panjang leluhur Tidore dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Perlawanan yang dilakukan tidak hanya melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui semangat persatuan dan nilai-nilai keislaman yang kuat, terutama pada masa Kolonialisme Belanda di Indonesia.
“Perjuangan masa lalu memberikan pelajaran penting tentang kesabaran, keberanian, dan persatuan,” ungkap salah satu perwakilan Kesultanan dalam dialog bersama para dai.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang melibatkan dai lintas provinsi. Para peserta bertukar pandangan terkait sejarah, strategi dakwah, serta tantangan umat di masa kini.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Ust. Nasri Buhori, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa nilai perjuangan Kesultanan Tidore memiliki keterkaitan erat dengan visi dan misi Hidayatullah.
Menurutnya, semangat perlawanan yang dibangun di atas fondasi keimanan dan persatuan menjadi inspirasi utama dalam gerakan dakwah saat ini.
“Kesultanan Tidore telah menunjukkan bahwa kekuatan peradaban Islam lahir dari tarbiyah yang kuat dan dakwah yang berkesinambungan. Ini sejalan dengan visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam melalui gerakan mainstream tarbiyah dan dakwah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di Maluku Utara, pendekatan tersebut terus diperkuat melalui pembinaan umat, pendidikan kader, serta penguatan jaringan dakwah di berbagai wilayah.
“Apa yang dilakukan para leluhur Tidore menjadi teladan bahwa dakwah bukan hanya ceramah, tetapi membangun sistem kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam,” katanya.
Usai dialog, rombongan diajak meninjau langsung ruang-ruang Kesultanan dan melihat berbagai benda peninggalan bersejarah. Artefak tersebut menjadi bukti nyata perjalanan panjang perjuangan masyarakat Tidore dalam mempertahankan kedaulatan dan identitas keislaman.
Salah satu dai peserta menyampaikan bahwa kunjungan ini memberikan inspirasi baru dalam menjalankan dakwah. “Kami tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga mengambil semangat perjuangan untuk diterapkan dalam pembinaan umat saat ini,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran dai sebagai agen perubahan sosial sekaligus penjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Selain itu, silaturahim ini menjadi jembatan untuk membangun sinergi antara warisan sejarah dan gerakan dakwah kontemporer di Indonesia Timur.
Melalui kunjungan ini, para dai diharapkan semakin kokoh dalam melanjutkan estafet perjuangan, dengan menjadikan sejarah sebagai pijakan dan kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam melangkah ke depan.