Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Pandangan umum memposisikan kebahagiaan sebagai tolok ukur kesuksesan hidup. Semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang ataupun negara, semakin diposisikan tercapainya derajat hidupnya.
Semua pun berlomba-lomba memenuhi ketercapaian kualitas kehidupannya, seberapapun yang dikorbankannya, semata demi merasakan arti sebuah kebahagiaan.
Kebahagiaan bisa jadi diraih dari ketercapaian, jabatan, kekayaan melimpah, keakraban keluarga, keberhasilan program, atau kesuksesan menggapai perjuangan.
Bahkan ada sifat manusia tertentu yang lebih tragis, merasakan kebahagiaan ketika membuat orang lain susah, menderita, tak jarang, bahagia saat mampu menghilangkan nyawa seseorang.
Lalu, bagaimana hakikat sebuah kebahagiaan itu? Untuk menjawabnya, kebahagiaan dapat dibagi dalam tiga level. Ketiganya tampak mirip, tetapi sesungguhnya berbeda secara makna dan kualitas.
Senang: Bahagia yang Bersifat Sementara
Senang adalah bahagia karena nikmat yang sementara. Senang merupakan reaksi emosional terhadap sesuatu yang menyenangkan karena mendapatkan apa yang diinginkan.
Mendapat rezeki, pujian, jabatan, atau keberhasilan lainnya, seringkali melahirkan rasa senang. Walaupun ada pula yang senang bahagia ketika orang lain dibuat susah dan menderita. Itu namanya bahagia di atas penderitaan orang lain.
Dalam Al-Qur'an disebutkan, “...Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Maksud kesenangan dalam ayat tersebut adalah sifatnya situasional dan sementara, namun bisa memperdaya serta membuat orang lalai dari tujuan akhir kehidupannya.
Bahagia: Memahami Arti Hidup
Bahagia adalah kondisi ketika seseorang memahami arti hidup dan mampu memaknai kehidupannya lebih dalam daripada sekadar senang.
Bahagia disebabkan keimanan yang bersemi dalam hati sehingga membuatnya senantiasa mensyukuri eksistensi hidupnya. Kebahagiaannya bukan karena apa yang dimilikinya, tetapi bagaimana setiap jatah waktu dan kesempatan yang diberikan dari-Nya diisi dengan berbagai amal kebajikan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an QS. An-Nahl: 97 bahwa siapa yang beriman dan beramal saleh akan diberikan “kehidupan yang baik” (*hayatan thayyibah*).
Inilah kebahagiaan sejati, lahir dari iman dan amal, bukan sekadar keadaan. Bahagia bukan hanya karena selalu terlihat tertawa, tetapi bahagia dari hati yang memiliki tujuan dan arah serta tahu untuk apa ia hidup.
Tenang (Thuma’ninah): Puncak Kebahagiaan
Tenang atau *thuma’ninah* adalah kebahagiaan tertinggi. Jiwa yang tenang bukan berarti tanpa masalah, tetapi hati tetap kokoh di tengah ujian.
Ketenangan jiwa hanya diperoleh dan dinikmati oleh jiwa yang senantiasa tenggelam dalam dzikir kepada Allah. Dalam Al-Qur'an QS. Ar-Ra’d: 28 ditegaskan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Tenang adalah kematangan ruhani, hasil kedekatan dengan Allah. Kebahagiaan tidak lagi bergantung pada dunia, melainkan ketika kehidupan dunia dilandasi dzikir kepada-Nya.
Tenang tidak berarti harus menjauh dari kehidupan dunia, tetapi tidak mudah gelisah, ridha atas apa pun takdir-Nya, dan segala napas kehidupannya terpaut hanya kepada-Nya. Hidupnya ridha dan diridhai Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an QS. Al-Fajr: 27–30.
Bagi pembaca yang ditakdirkan memiliki isteri bernama Mutmainnah dan sholehah lagi, itu namanya “Bahagia di Atas Bahagia”.
