Oleh: Ust. Nasri Buhori, M.Pd*
Hidup mulia karena memiliki reputasi dan sejumlah prestasi sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Tak ayal, banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan penghargaan dan pujian.
Dalam pandangan umum, semakin tinggi pengakuan yang diperoleh seseorang, semakin tinggi pula nilai keberhasilannya di mata masyarakat.
Pencapaian gelar akademik, jabatan, penghargaan, dan popularitas sering dijadikan simbol keberhasilan hidup. Semua itu seakan menjadi tanda bahwa seseorang telah mencapai puncak dari usaha dan perjuangannya.
Namun tidak jarang, perjalanan panjang dalam mengejar kemuliaan itu justru berakhir pada frustrasi dan kelelahan batin. Harapan yang begitu tinggi terhadap pengakuan manusia sering kali berbalik menjadi tekanan psikologis yang melelahkan.
Hal ini terjadi ketika manusia menempatkan kemuliaan dari pengakuan manusia sebagai tujuan utama hidupnya. Ketika pujian dan penghargaan menjadi ukuran utama kebahagiaan, maka hidup pun menjadi sangat bergantung pada penilaian orang lain.
Konsep Islam memberikan perspektif yang berbeda tentang makna pencapaian dan kemuliaan. Wahyu pertama pada QS. 96: 1–5 dimulai dengan perintah “Iqra’ bismi rabbika”—bacalah dengan nama Tuhanmu.
Perintah ini bukan sekadar ajakan untuk membaca secara literal, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang bagaimana manusia memulai seluruh aktivitas kehidupannya.
Pesan ini menegaskan bahwa setiap aktivitas, termasuk pencapaian ilmu, gelar intelektual, dan berbagai prestasi, harus dimulai dengan kesadaran bahwa semuanya dilakukan atas nama Allah dan dalam bimbingan-Nya. Kesadaran ini menempatkan usaha manusia dalam kerangka pengabdian kepada Sang Pencipta.
Kesadaran bahwa ketika ilmu dan usaha tidak dikaitkan serta tidak disandarkan kepada Allah, maka reputasi dan prestasi yang diraih mudah berubah menjadi sumber kesombongan ataupun kekecewaan. Prestasi yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru dapat menjadi beban psikologis ketika dijadikan tujuan akhir kehidupan.
Pada ayat kedua, manusia diingatkan bahwa ia diciptakan dari zat yang sangat rendah dan menjijikkan. Pengingat tentang asal-usul diri ini seharusnya menumbuhkan kerendahan hati dalam diri manusia. Ia diingatkan bahwa segala kelebihan yang dimilikinya bukanlah sesuatu yang lahir secara mandiri dari dirinya sendiri.
Namun kenyataannya, reputasi sering membuat manusia lupa diri. Ia merasa bahwa apa yang diraihnya adalah semata-mata hasil kemampuan dan kerja kerasnya sendiri, bukan pemberian dari siapa pun. Pandangan seperti ini perlahan menumbuhkan rasa superioritas dalam dirinya.
Akibatnya, ia merasa wajar memiliki kemuliaan lebih tinggi dari orang lain. Ia juga merasa berhak dan pantas mendapatkan pujian serta penghargaan dari manusia. Dalam kondisi seperti ini, penghargaan dari orang lain tidak lagi dipandang sebagai bonus, tetapi sebagai sesuatu yang harus diterima.
Letak masalahnya muncul ketika pujian itu berkurang, atau ketika prestasi dan reputasi tidak lagi diakui. Terlebih lagi ketika kemuliaannya seolah dicampakkan atau dilupakan. Pada saat itulah rasa kecewa, gelisah, bahkan frustrasi muncul dalam dirinya. Semua itu terjadi karena kebahagiaannya terlalu bergantung pada penilaian manusia.
Sementara itu, Allah menegaskan bahwa Dialah yang mengajarkan manusia dengan perantaraan pena dan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia. Ayat ini mengandung makna bahwa pada hakikatnya seluruh ilmu dan kemampuan adalah karunia dari Allah.
Karunia tersebut diwujudkan melalui akal yang diberikan kepada manusia, yang membuatnya memiliki kecerdasan dan kemampuan intelektual. Tanpa karunia itu, manusia tidak akan mampu memahami ilmu pengetahuan ataupun menghasilkan berbagai prestasi yang membanggakan.
Kesadaran seperti ini tidak akan menjadikan reputasi dan prestasi sebagai tujuan akhir kehidupan. Sebaliknya, reputasi dan prestasi diposisikan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan perspektif ini, prestasi tidak lagi menjadi sumber kesombongan, melainkan menjadi amanah yang harus dimanfaatkan dengan bijak.
Reputasi dan prestasi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan keduanya bisa menjadi sesuatu yang mulia jika digunakan untuk kemaslahatan dan memberi manfaat bagi orang lain. Prestasi yang dilandasi niat yang benar dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kebaikan yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
Namun ketika reputasi dan prestasi dikejar semata-mata demi pengakuan manusia, maka keduanya dapat berubah menjadi sumber kegelisahan dan frustrasi. Hal ini karena pengakuan manusia bersifat sementara dan tidak pernah benar-benar mampu memuaskan hati manusia.
Islam mengajarkan agar manusia mengejar ilmu dan berusaha meraih prestasi dengan niat yang benar, yaitu karena Allah. Niat yang lurus akan menjaga manusia dari sikap sombong ketika berhasil, sekaligus melindunginya dari keputusasaan ketika menghadapi kegagalan.
Ketika tujuan utama adalah meraih keridhaan Allah, maka kesuksesan tidak akan melahirkan kesombongan dan kegagalan tidak akan melahirkan keputusasaan. Dalam keadaan seperti ini, manusia mampu memandang prestasi secara proporsional.
Apapun prestasi yang diraihnya tidak menjadi beban yang menekan jiwa. Sebaliknya, prestasi itu menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus memberi manfaat dan dampak positif bagi sesama manusia. Dengan cara itulah reputasi dan prestasi menemukan maknanya yang sejati dalam kehidupan manusia.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Malut 2026-2030*
