Oleh: Ust. Nasri Buhori M.Pd*
Pintu pertama menuju terbukanya kesadaran intelektual adalah dengan membaca. Melalui membacalah, manusia mulai mengenal dunia luar dari dirinya. Ia pun memahami berbagai ilmu pengetahuan, tentang nilai, dan pengalaman orang lain.
Dari lembar-lembar yang dibacanya, manusia seperti membuka jendela baru yang memperlihatkan luasnya cakrawala kehidupan.
Sebaliknya tanpa membaca, manusia cenderung melihat dan memahami realitas secara sempit dan terbatas semata pada pengalaman pribadinya. Ia hanya berjalan di lingkaran kecil pengetahuannya sendiri, tanpa kesempatan memperluas pandangan dan memperdalam pemahaman tentang dunia yang lebih besar.
Dari sini pulalah kita dapat dipahami bahwa perubahan cara dan sistem berpikir manusia sangat erat kaitannya dengan intensitas membaca. Semakin sering seseorang membaca, semakin luas pula perspektif yang dimilikinya, dan semakin dalam pula cara ia memaknai kehidupan.
Membaca tidak sekadar menambah informasi, tetapi juga membentuk cara manusia menilai, merenung, dan mengambil sikap terhadap realitas.
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º adalah Al-‘Alaq, diawali dengan sesuatu yang sangat mendasar: perintah Iqra’ (bacalah).
Bukan sekadar perintah dan ajakan untuk melafalkan teks, perintah iqra merupakan fondasi untuk terbentuknya pola pikir manusia yang berilmu. Ia adalah panggilan awal bagi manusia untuk keluar dari kegelapan ketidaktahuan menuju terang pengetahuan.
Perintah ini tidak berdiri sendiri, karena langsung diikuti dengan kalimat “bismi rabbika”—dengan nama Tuhanmu. Ini menunjukkan bahwa aktivitas dan intensitas membaca adalah bagian kegiatan intelektualitas (ulul albab), yakni aktivitas berpikir yang tidak terlepas dari kesadaran spiritual.
Dengan demikian, membaca bukan hanya proses intelektual, tetapi juga perjalanan ruhani yang menghubungkan akal manusia dengan sumber kebenaran yang lebih tinggi.
Membaca memiliki makna dalam dari dua dimensi. Pertama, proses mengenal kebesaran Allah dari membaca tanda-tanda kebesaran-Nya pada alam semesta. Ketika membaca alam semesta, sesungguhnya ia melihat keteraturan dan keindahan ciptaan Allah.
Gunung yang tegak, lautan yang luas, peredaran siang dan malam, serta harmoni kehidupan yang tak pernah berhenti, semuanya adalah ayat-ayat yang terbentang bagi mereka yang mau membaca dengan hati dan akal.
Dan semua proses membaca ini, perlahan tapi pasti, membentuk kesadaran bahwa di balik segala sesuatu di keindahan alam ini terdapat Sang Pencipta yang Maha Mengatur. Alam tidak berjalan secara kebetulan, tetapi berada dalam tatanan yang rapi dan penuh hikmah.
Membaca pada ayat ke-dua bermakna memahami tanda-tanda kebesaran-Nya ketika ia membaca eksistensi pada proses penciptaan dirinya. Bahwa asal muasal penciptaannya manusia adalah dari setetes air yang hina, lalu tersimpan rapi dan aman di alam rahim, hingga tercipta sempurnalah menjadi manusia.
Dari proses yang sederhana itu lahirlah makhluk yang mampu berpikir, merasakan, dan memahami.
Pembacaan diri tersebut mengantar lahirnya hakikat kesadaran akan siapa sesungguhnya dirinya. Mendorong manusia untuk tidak sombong dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya.
Ia menyadari bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan, bukan sesuatu yang lahir dari kekuatannya semata.
Semakin intensif seseorang membaca siapa sesungguhnya dirinya, niscaya akan memunculkan pemahaman akan hakikat kehidupan. Semakin ia menyadari pula keterbatasannya sebagai makhluk.
Ia memahami bahwa di balik kemampuan berpikir dan berbuat, ada batas-batas yang tidak dapat ia lampaui.
Semua proses ini perlahan atau pun cepat membentuk kesadaran diri bahwa di balik kehebatannya terdapat kelemahan dalam genggaman Sang Pencipta yang Maha Perkasa.
Kesadaran inilah yang menjadikan manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara spiritual.
Iqra yang benar adalah yang mampu mengantarkan lahirnya kesadaran menuju titik nadir kerendahan hati. Bersimpuh di bawah ke-Maha besaran-Nya menjadi bagian penting dari lahirnya tauhid yang benar.
Dari membaca, manusia tidak hanya menjadi tahu, tetapi juga menjadi tunduk; tidak hanya memahami, tetapi juga menyadari tempatnya sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Malut 2026-2030*
