Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Pembinaan Guru SMP-SMA AL Izzah: Siapkan Lembaga Pendidikan Mandiri dan Berpengaruh


KUSU (Hidayatullahmalut.or.id)
— Guru di lingkungan Hidayatullah ditegaskan sebagai profesi mulia yang tidak sekadar menjalankan tugas mengajar demi kepentingan materi atau faktor duniawi. 

Lebih dari itu, guru dipandang sebagai bentuk pengabdian dan perjuangan Islam melalui lembaga pendidikan.

Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan pembinaan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Al Izzah, yang berlokasi di Kusu-Sofifi, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Kegiatan ini diikuti para guru SMP dan SMA Al Izzah Kusu Sofifi, (4/3/2026).

Tausiyah pencerahan disampaikan oleh Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Drs. Nasri Buhori, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi Pimpinan Pondok Pesantren Al Izzah, Hi. Riyadi Poniman, S.HI, serta Kepala Sekolah SMA Al Izzah, Dr. Iksan Gula.

Dalam arahannya, Nasri Buhori menegaskan bahwa guru Hidayatullah harus memiliki karakter profetik sekaligus profesional. Artinya, guru tidak hanya kompeten dalam bidang keilmuan dan metodologi pembelajaran, tetapi juga meneladani nilai-nilai kenabian dalam sikap dan perilaku.

Sebagai lembaga pengkaderan, Hidayatullah diharapkan mampu mencetak guru-guru Qur’ani. Standarisasi menjadi guru disebut telah lama menjadi perhatian, sebagaimana merujuk pada pemikiran pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, dengan landasan Al-Qur'an, khususnya Surah Al Jumuah ayat 2 tentang tugas Rasul dalam membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, dan mengajarkan kitab serta hikmah.


Dalam konteks kepemimpinan, kepala sekolah dan pemimpin lembaga juga didorong untuk memulai perjuangan dari bawah, berbaur dan tumbuh bersama jamaah. Keteladanan tersebut dicontohkan dari perjalanan Nabi Muhammad sebagai guru yang membersamai umatnya sejak awal perjuangan.

Guru juga diingatkan untuk memiliki sikap “ummi” dalam makna terus belajar tanpa henti. Semangat iqra’ tidak dimaknai sebatas membaca teks, tetapi membaca dengan kesadaran spiritual, “Iqra’ bismirabbik” — membaca dengan menyebut nama Tuhan.

Setiap calon guru dan pegawai yang bergabung di Hidayatullah diwajibkan memahami jati diri lembaga serta mematuhi seluruh perangkat aturan dan regulasi yang berlaku. Hal ini dinilai penting untuk menjaga arah perjuangan dan konsistensi gerak lembaga.

Budaya literasi menjadi perhatian utama. Guru Hidayatullah dituntut menghidupkan semangat membaca, mahir dalam tilawah Al-Qur’an, serta kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. 

Selain itu, guru harus menjadi teladan dalam seluruh aspek kebaikan, baik dalam penataan diri, hati, maupun jasmani, sehingga mampu menjadi “magnet” kebaikan bagi peserta didik dan lingkungan sekitar.

Sebelum mentransformasi ilmu kepada siswa, guru diingatkan untuk melakukan “tilawah” terhadap diri sendiri—menyucikan hati dan pikiran. Dengan demikian, proses transfer ilmu tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual dan hikmah dalam penyampaiannya.

Pada kesempatan tersebut, Nasri Buhori juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan pesantren, kepala sekolah, dan seluruh guru yang telah berjuang membina anak-anak santri sebagai kader pelanjut perjuangan. 

Ia menilai dedikasi para pendidik di Al Izzah Kusu Sofifi merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap melanjutkan estafet dakwah dan tarbiyah terwujudnya visi besar Peradaban Islam.

Ke depan, jajaran pendidik Hidayatullah direncanakan duduk bersama untuk merumuskan visi lembaga 2026–2030 di bidang pendidikan, dengan cita-cita mewujudkan pendidikan yang mandiri dan berpengaruh.

Melalui kegiatan ini, para guru SMP-SMA Al Izzah Kusu Sofifi diharapkan senantiasa diberi kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan pengabdian serta perjuangan di dunia pendidikan.