Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Setiap kala ada kata panggilan kita memaknai sebagai sekadar suara atau sapaan dari seseorang kepada yang lain. Bagaimana kalau panggilan itu dari Yang Maha Mulia kepada hamba-Nya?
Sudah barang tentu mengandung makna yang dalam. Sebab mengandung pengakuan Identitas terhadap seseorang yang dipanggil. Pengakuan keberadaan seorang hamba yang termuliakan, karena pembuktian kepatuhan pada Sang Khaliq.
Panggilan penghargaan atas kesiapan mengembangkan tanggung jawab besar nan agung. Seperti Halnya ketika Allah berfirman:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū…” (Wahai orang-orang yang beriman) Itu adalah panggilan pengakuan atas identitas iman seseorang, yang dipercaya oleh mampu menjalankan amanah besar
Dalam Al-Qur'an, di surah Al-Baqarah:183, Allah berfirman dengan panggilan khusus kepada orang beriman "Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…
Pada ayat tersebut Mengapa Allah memanggil dengan “Wahai orang-orang yang beriman” bukan memanggil dengan mengatakan " Wahai manusia"?
Hikmah besar adalah panggilan iman adalah Panggilan Kehormatan atas kesiapan dan kemampuannya menerima amanah amanah puasa. Sekaligus ini menunjukkan bahwa puasa adalah amanah khusus bagi orang beriman, yang akan melahirkan kemuliaan.
Juga menandakan syarat ketaatan menjalankan ibadah shiyam (puasa) adalah dengan Iman
Sebab dalam ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi ibadah yang memerlukan kesadaran iman.
Banyak juga yang puasa sekedar hanya menjadi rutinitas fisik sebagai muslim bukan didasari oleh iman. "Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."
Syukurilah, Allah mengaruniakan iman kepada kita, dengan bergembira melaksanakan puasa, agar melahirkan takwa. Semoga dengan taqwa meninggikan derajat kita menjadi lebih tinggi di sisi Allah.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara 2026-2030*
