Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd
Sudah menjadi aksioma bahwa ketika kita meninggalkan yang buruk, maka kebaikan dan keberkahan akan mengikuti. Prinsip ini mudah dipahami dan diterima oleh akal sehat. Namun, akan terdengar paradoks ketika dikatakan bahwa keberkahan sering kali justru lahir ketika kita berani meninggalkan sesuatu yang sebenarnya baik.
Dalam kehidupan, tidak jarang yang kita tinggalkan bukanlah sesuatu yang buruk. Kadang justru yang kita lepaskan adalah sesuatu yang baik, seperti pekerjaan baik, posisi baik, kesempatan baik, dan kenikmatan duniawi lainnya.
Secara kasat mata, semua itu tampak sebagai anugerah yang layak dipertahankan. Akan tetapi, di balik keberanian untuk melepaskannya, keberkahan bisa datang dengan cara yang melimpah dan tak terduga.
Mengapa demikian? Karena ada yang lebih baik yang Allah siapkan dan paling diridhai oleh-Nya. Di sinilah keberkahan dari ridha-Nya diuji. Tidaklah semua yang baik dalam pandangan manusia adalah yang terbaik di sisi Allah.
Manusia menilai dengan keterbatasan akal dan perasaan, sedangkan Allah menilai dengan ilmu yang sempurna dan meliputi segala sesuatu.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,”(QS. Al-Baqarah:216).
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran “baik” menurut manusia tidak selalu sejalan dengan ketetapan Allah. Kenikmatan dunia yang kita genggam nampaknya terlihat baik menurut kacamata manusia. Padahal, bisa jadi Allah sedang menyiapkan pilihan lain yang jauh lebih mulia dan lebih membawa keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Keberkahan lahir bukan dari sekadar “baik”, tetapi dari apa yang Allah pilihkan dan bahkan perintahkan kepada hamba-Nya. Setiap kali ada hukum Ilahi yang mengarahkan kita untuk meninggalkan sesuatu, yakini bahwa itu bukan bentuk kehilangan, melainkan proses penggantian menuju yang lebih baik.
Apa yang dilepas karena ketaatan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan diganti dengan kebaikan yang lebih bernilai.
Rasulullah ï·º bersabda: “Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menjadi jaminan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah tidak akan sia-sia. Justru di sanalah letak keberkahan yang hakiki.
Puasa yang kita jalani merupakan contoh nyata dari prinsip ini. Di dalamnya terdapat perintah meninggalkan sesuatu yang baik dan bahkan dibutuhkan dalam kehidupan, seperti makan, minum, serta berhubungan suami-istri.
Semua itu pada dasarnya halal dan baik. Namun, ketika ditinggalkan dalam rangka ketaatan, di situlah lahir nilai ibadah dan keberkahan yang agung.
Di samping itu, kita juga meninggalkan kenyamanan di pembaringan untuk bangun pada sepertiga malam. Kita bermunajat, memohon ampunan-Nya, serta mengharapkan keberkahan dalam segenap kehidupan.
Secara fisik mungkin terasa berat, tetapi secara ruhani menghadirkan ketenangan dan kekuatan yang tidak dapat diukur dengan materi.
Nikmatnya hidup dalam ketaatan kepada Allah adalah kenikmatan hidup tertinggi. Sebab, ia bukan sekadar rasa senang yang bersifat sementara, tetapi hidup yang bermakna, yang melahirkan kebahagiaan dan ketenangan sejati.
Keberkahan sejati bukanlah tentang banyaknya yang dimiliki, melainkan tentang ridha Allah yang menyertai setiap langkah kehidupan.
Penulis adalah Ketua DPW Maluku Utara 2026-2030*
