Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate menerima dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah, fidyah, dan wakaf tunai Anda kepada yang berhak. Informasi lebih lanjut hubungi WA Center +62 812-4852-7607

Dosa besar yang ringan di Lisan, Berat di Timbangan

“Dan janganlah kamu menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Hujurat 12)

Ayat ini sangat kuat karena Allah tidak sekadar melarang ghibah, tetapi memberikan perumpamaan yang menjijikkan.

Memakan daging adalah tindakan yang sangat hina. Lebih dalam lagi, itu daging saudara sendiri, orang yang seharusnya dijaga kehormatannya.

Dan lebih menyayat dilanjutkan, dalam ayat tersebut menerangkan saudara itu sudah mati, maksudnya tidak bisa membela diri. 

Kalimat utuhnya, ghibah adalah bentuk kedzaliman terhadap orang yang tidak mampu membela dirinya.

Ini menunjukkan bahwa ghibah bukan dosa ringan. Ia merusak ukhuwah dan kehormatan sesama muslim, serta dilakukan saat orang tidak hadir, seperti mayat yang tak berdaya.

Saudaraku, ghibah bukan dosa ringan. Bukan sekadar obrolan biasa. Bukan cuma “khilaf kecil”. 

Itu dosa yang sering kita ulang tanpa rasa bersalah. Kita takut dosa besar, tapi santai saat membuka aib orang. Ironis.

Coba jujur pada diri sendiri. Berapa kali kita duduk santai, lalu nama orang lain jadi bahan cerita?

Bukan karena peduli. Bukan karena ingin menolong. Tapi karena ingin didengar, ingin dianggap tahu, ingin merasa lebih baik.

Itu penyakit hati. Lebih berbahaya lagi, kita sering membungkusnya dengan kalimat manis: “Bukan ghibah, tapi fakta.” “Aku cuma cerita.” “Biar jadi pelajaran.” Padahal hati tahu, itu pembelaan diri.

Kalau benar niatnya menolong atau mengingatkan, kenapa tidak bicara langsung? Kenapa tidak disampaikan ke yang berwenang saja? Kalau benar ingin memperbaiki, kenapa disampaikan di belakang?

Ingat ini baik-baik. Setiap ghibah bukan cuma dosa. Itu transfer pahala. Kita capek ibadah, bangun malam, sedekah, menahan diri.

Lalu hilang begitu saja karena satu percakapan. Dan yang menyakitkan, kita sendiri yang memberikannya, tanpa dipaksa, tanpa disuruh.

Berhenti merasa aman hanya karena banyak ibadah. Bisa jadi yang membuat kita bangkrut di akhirat bukan dosa besar, tapi dosa kecil yang diulang terus-menerus. 

Lisan yang tak dijaga, obrolan yang tak disaring, candaan yang merusak kehormatan orang.

Kalau hari ini masih sering ghibah, jangan cari pembenaran. Akui, “Iya, ini dosa.” Jangan haluskan. Jangan dibela. Jangan ditunda taubatnya. Karena kematian tidak menunggu kita siap.

Mulai tegas pada diri sendiri. Kalau obrolan mulai menjurus, diam. Kalau grup mulai panas, keluar. Kalau hati ingin ikut, lawan. Tidak perlu jadi suci. Cukup jadi orang yang berani berhenti.

Ingat, kita ini penuh dosa, sementara pahala pun tidak seberapa. Jangan bodoh dengan menghabiskan pahala sedikit itu untuk sesuatu yang tidak menambah nilai kita di sisi Allah. 

Menang debat tidak menyelamatkan kita. Menang cerita tidak meninggikan derajat kita, yang menyelamatkan adalah hati yang bersih dan lisan yang dijaga.

Kalau tidak bisa banyak amal, setidaknya jangan merusaknya dengan lisan sendiri. Jaga diri, jaga mulut, dan jaga akhir kita. Sebelum datang hari di mana penyesalan tidak lagi berguna /*Redaktur