Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Setiap orang pernah merasa berada pada titik tertinggi dalam hidupnya. Lulus dengan nilai terbaik, bisnis mulai stabil, organisasi mulai berkembang, atau dipercaya memimpin sebuah amanah besar.
Disanalah hidupnya terasa seperti berdiri di puncak gunung, lega, bahagia , bangga, dan puas. Namun hidup selalu mengajarkan satu hal: di atas puncak prestasi dan kedudukan masih ada puncak.
Mengapa demikian? Sebab puncak Itu bukanlah garis akhir, dan tujuan akhir kehidupan dunia ini.
Setiap pencapaian hanyalah anak tangga menuju titik kulminasi.
Ibarat mendaki gunung, ketika sampai di satu puncak, dia merasa telah berada di puncak tertingg. Ternyata dari sana terlihat di gunung lain masih ada yang lebih tinggi.
Menarik sedikit mengulas kisah Nabi Musa yang merasa paling berilmu diantara kaumnya. Suatu ketika Nabi Musa ditanya oleh kaumnya:
“Siapakah manusia yang paling berilmu?”
Beliau menjawab, “Saya.”
Tentu jawaban itu bisa dibenarkan dalam konteks kenabian, karena beliau berada di tengah Bani Israil yang memiliki banyak ilmu, tetapi tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah.
Maka Allah pun menegur Musa dengan memberitahukan bahwa, kalau masih ada seorang hamba bernama Khaidir, yang diberi ilmu khusus oleh-Nya, yang tidak dimiliki Musa.
Walau disini kita tidak menjelaskan panjang lebar tentang kisah perjalanan panjang Musa membersamai Khaidir. Namun intinya, pada akhirnya Musa menyadari dirinya, bahwa dalam segala ilmu dan kelebihan yang banyak pada dirinya di tengah kaumnya, ternyata masih nada yang lebih tinggi darinya.
Setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada ilmu lain yang Allah titipkan kepada hamba-Nya yang lain. Juga sikap dalam hal itu, Muda menunjukkan sikap yang tidak gengsi, dan justru melakukan perjalanan jauh untuk menemui Khidir, belajar padanya.
Sebagai orang dipuncak keilmuannya dan kesholehannya, Muda tidak merasa sombong, tidak malu duduk sebagai murid
Sebab idak ada manusia yang memonopoli seluruh ilmu, serta tdak ada puncak yang absolut dalam urusan dunia. Di atas setiap puncak, masih ada puncak yang Allah simpan.
Tangga pendakian dari puncak menuju puncak lebih tinggi, bisa jadi harus turun dari puncak ke titik nadir. Mengevaluasi diri, menghilangkan kesombongan, menata kembali diri. Dalam kerendahan diri niscaya melahirkan kekuatan baru.
Dari situ akan menemukan hati yang mutmainnah, membuka jalan ke pendakian yang hakiki dijalan-Nya. Menuju kepuncak keabadian, ke puncak tertinggi, ketika Allah berkata kepada hamba-Nya, Rāḍiyatan marḍiyyah.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara 2026-2030*
