Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Harap dan cemas, padanan jiwa dan karakter manusia yang nampaknya paradoksal. Satu sisi bermakna optimistis, pada sisi lain terdapat kekhawatiran.
Di kondisi psikologis ini, manusia sering diperhadapkan untuk memilih: optimis atau takut. Seakan keduanya berdiri di dua kutub yang saling meniadakan, padahal sesungguhnya keduanya tumbuh dari akar kesadaran yang sama—kesadaran akan diri dan akan Tuhan.
Keduanya memiliki konsekuensi logis. Ketika jiwa berpengharapan, ia akan mendekat pada-Nya, karena yakin pada Rahmat.
Sementara jiwa yang cemas dipenuhi kehati-hatian, karena sadar akan kekurangan. Harap melahirkan langkah, cemas menumbuhkan sikap waspada. Harap membuat hati hangat oleh keyakinan, cemas menjaga diri agar tidak terjerumus dalam kelalaian.
Apakah kedua kondisi jiwa itu bisa bertemu?
Jawabannya kembali kepada kondisi jiwa.
Saat jiwa sedang sakit, sepertinya amat sulit bertemu. Harap berubah menjadi angan-angan kosong, dan cemas menjelma ketakutan yang melemahkan. Sebaliknya, pada jiwa dalam kondisi sehat, harap dan cemas adalah padanan sifat yang bisa selaras.
Keduanya hadir sebagai dua sayap yang membuat ruhani mampu terbang menuju kedewasaan iman—tidak terlalu percaya diri hingga lalai, tidak pula terlalu takut hingga berputus asa.
Terlebih lagi dalam jiwa yang diselimuti iman, keduanya bukan paradoks kontradiktif, melainkan paradoks komplementer atau saling melengkapi satu sama lain. Harap menjaga agar langkah tidak berhenti, cemas memastikan agar langkah tidak menyimpang.
Jembatan komplementernya adalah bertemu pada kekuatan mujahadah dalam nilai dan amaliah, termasuk ibadah puasa. Di situlah harap dan cemas dipertemukan dalam disiplin spiritual yang konkret.
Sebab, dengan “imānan waḥtisāban” (iman yang kuat penuh harap) akan melahirkan puasa sepenuh ikhlas. Harapan melahirkan kesungguhan atau mujahadah yang mampu menjaga diri dari kekhawatiran, jikalau amalan puasa tidak sempurna sehingga takwa pun tak dapat diraih.
Rasa cemas yang sehat bukanlah penghalang, melainkan pengingat agar setiap detik puasa diisi dengan kesadaran; agar lisan terjaga, hati dibersihkan, dan perilaku ditundukkan pada nilai ilahiah.
Itulah makna
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ La‘allakum tattaqūn
(agar kamu bertakwa) sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183. Oleh para ulama dijelaskan bahwa “la‘alla” berarti harapan, karena manusia tidak pernah benar-benar tahu hasil akhirnya.
Ada ruang kemungkinan, ada celah ketidakpastian, dan di sanalah harap serta cemas memainkan perannya. Manusia berikhtiar, Allah yang menentukan. Manusia berharap, namun tetap waspada.
Untuk menggapai takwa sebagai tujuan mulia dari puasa itu sendiri, tiada lain jalan yang harus ditempuh selain bersungguh-sungguh penuh harap.
Harap yang membuat ibadah terasa ringan, dan cemas yang membuatnya tetap terjaga dari riya dan kelalaian. Hingga pada akhirnya, rasa cemas yang berlebihan pun luruh, berganti dengan ketenangan karena telah berikhtiar sekuat kemampuan.
Maka jiwa pun tenggelam dalam ibadah puasa, disertai amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ—dengan keseimbangan antara raja’ (harap) dan khauf (cemas). Dalam kecemasan yang terkelola, selalu ada harapan yang menyala.
Dan dalam harapan yang tulus, selalu ada kewaspadaan yang menjaga. Di sanalah takwa menemukan jalannya, perlahan namun pasti, dalam denyut jiwa yang terus belajar mendekat kepada-Nya.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara 2026-2030*
