Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Semua kegiatan perdagangan (bisnis) pada dasarnya mengharapkan keuntungan besar dan kekayaan melimpah. Tidak jarang, kesuksesan bisnis menempatkan seseorang pada status sosial yang tinggi dan terhormat di tengah masyarakat.
Sebaliknya, prestasi dan prestise dapat terabaikan dan sirna seketika ketika kekayaan itu hilang dan ia jatuh miskin. Popularitasnya redup, kewibawaannya lenyap, dan yang tersisa hanyalah sebutan: mantan hartawan.
Banyak faktor yang menjadi penyebab fluktuasi keuntungan para pebisnis, mulai dari salah kelola hingga faktor eksternal seperti kondisi pasar atau kebijakan penguasa. Semua itu sering datang tanpa diduga.
Namun, tahukah Anda bahwa ada bisnis yang tidak pernah merugi dan selalu berada dalam keberuntungan? Dialah “bisnis amal saleh”, yang dijalani dengan setulus hati dan sepenuh jiwa dalam bingkai ihsan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan (tijārah) yang tidak akan merugi.” (QS. Fatir: 29–30)
Pada ayat ini Allah menggunakan kata tijārah (perdagangan) sebagai gambaran amal saleh yang multidimensi: tilawah dan tadabbur wahyu (hubungan dengan Allah), salat (hubungan vertikal), serta infak (kepedulian sosial).
Disebut sebagai “perdagangan yang tidak akan pernah rugi” karena pahalanya pasti, tidak tergerus inflasi dunia, tidak bergantung pada kondisi pasar, dan tidak akan pernah bangkrut.
Barang siapa mengambil bagian dalam urusan ini, niscaya dialah yang memperoleh keberuntungan hakiki di sisi-Nya—kaya dalam makna, bahagia dalam jiwa, dan sejahtera dalam kenikmatan surga dunia dan akhirat.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara 2026-2030*
