Oleh: Ust. Drs. Nasri Buhori, M.Pd*
Prinsip dasar kehidupan adalah bahwa segala sesuatu yang ingin digapai harus dikejar. Ini mengandung makna bahwa cita-cita tidak akan datang menghampiri orang yang diam; ia hanya menghampiri mereka yang bergerak cepat dan bersungguh-sungguh.
Iman yang benar adalah iman yang memiliki spirit tinggi. Kekuatannya mampu mendorong produktivitas kehambaan menuju level tertinggi, yakni level takwa—derajat yang paling mulia di sisi-Nya.
Pendakian menuju level ini tidak semudah sekadar memimpikannya. Ia tidak segampang membayangkan puncak harapan, dan tidak semua orang mampu menempuhnya tanpa kesungguhan dan perjuangan.
Allah Yang Maha Mulia memuliakan orang-orang bertakwa (muttaqin) bukan hanya pada kedudukannya semata, tetapi pada proses panjang dalam meraih takwa itu sendiri. Yang dihargai-Nya adalah kesungguhan perjalanan tersebut.
Penghargaan atas proses itu sangat bergantung pada mujahadah hamba-Nya. Semakin kuat ia berlari dan berlomba-lomba dalam kebaikan, semakin tinggi nilai dan derajat takwanya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
*"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."*
(QS. Ali ‘Imran: 133)
Kata *sāri‘ū* berasal dari *musāra‘ah*, yang berarti berlomba dengan cepat. Bukan sekadar melakukan, tetapi melakukan dengan kesungguhan, keteguhan, dan kecepatan yang terarah.
Seseorang yang bercita-cita mulia, yang ingin meraih derajat muttaqin, tidak boleh menunda kesempatan: menunda taubat, menunda amal saleh, atau menunda memperbaiki diri.
Sebab perubahan tidak lahir dari kelambanan, melainkan dari gerak cepat yang terukur dan terstruktur. Dimulai dengan bersegera menuju ampunan-Nya, lalu menuju surga yang dipenuhi rahmat—yang luasnya tak terhingga, seluas langit dan bumi.
Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara 2026-2030*
