Oleh: Ust. Nasri Buhori M.Pd.I
Kepemimpinan bukan semata tentang kedudukan, jabatan, atau struktur formal. Ia adalah sebuah proses mempengaruhi, menggerakkan, dan menginspirasi orang lain menuju tujuan bersama.
Kepemimpinan adalah pengaruh, dan pengaruh tidak selalu identik dengan jabatan. Terkadang kita mendapati seseorang tidak memiliki posisi dan jabatan struktural, tapi dia mampu mempengaruhi orang lain. Dimana letak rahasianya?
Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah jawaban yang mendalam dan sering kali terabaikan. Pengaruh sejati tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kualitas batin seseorang.
Karena dia memilih hati yang bening dan tulus, sebagai kekuatan besar dalam dirinya. Kekuatan yang mendorong kemampuan seseorang untuk bisa mempengaruhi dan memimpin orang lain. Ketulusan melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi utama kepemimpinan yang langgeng.
Hati adalah episentrum ke-jati diri-an seseorang dan magnet power yang mempengaruhi sekelilingnya.
Hati yang sehat menjadi kekuatan jiwa, penggerak turbin kepemimpinan, mengalirkan pengaruh positif keseluruh jaringan kepemimpinan, hingga ke jaringan anggota paling bawah. Dari sinilah nilai, sikap, dan perilaku seorang pemimpin memancar dan membentuk budaya dalam kepemimpinannya.
Eksistensi hati, bagai raja dalam diri, berfungsi sebagai pusat pengaruh. Mampu menstimulasi dan menginspirasii bagi yang dipimpinnya dalam hal cara berpikir, bersikap, seta memotivasi untuk bertindak sesuai keinginan pemimpinnya atau keinginan besama.
Ketika hati memimpin dengan benar, maka arah kepemimpinan pun menjadi jelas dan bermakna. Nilai ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menempatkan hati sebagai pusat penentu baik dan buruknya seseorang.
Rasulullah pun menggambarkan hati sebagai penentu kesuksesan kepemimpinan.
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan sangat ditentukan oleh kualitas hati sang pemimpin.
Dari hadits tersebut, kita tarik pemahaman, bahwa hati, selain sebagai episentrum jati diri, juga berfungsi sebagai kompas ataupun pemandu pemimpin dalam menggerakkan bahtera kepemimpinanya.
Menuju kepada ketercapaian cita-cita dan tujuan organisasi atau kelompok. Tanpa kompas yang benar, bahtera kepemimpinan akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat dan godaan kekuasaan.
Karena itu, kepemimpinan sejati menuntut kejernihan niat dan kebersihan hati. Kepemimpinan yang baik dan efektif adalah kepemimpinan yang digerakkan oleh hati yang bersih, tulus dan ikhlash.
Berfokus pada kepentingan bersama yang luas dan jauh kedepan Bergerak bersama mewujudkan visi besar yang disepakati. Kepemimpinan seperti ini tidak memaksakan kehendak, tetapi mengajak dengan keteladanan.
Akhirnya, pemimpin yang memimpin dengan hati akan meninggalkan jejak yang mendalam, bukan sekadar prestasi sesaat.
Sosok pemimpin berhati baik akan memancarkan cahaya kebaikan, marasut kenperala hati dan jiwa yang dipimpinnya.
Terwujudlah kesatuan hati dalam suatu kepemimpinan. Sehingga apapun yang hendak diprogramkan niscaya Allah akan memudahkan-Nya.
Inilah makna sejati memimpin dengan hati: bukan hanya memegang tahta, tetapi benar-benar bertahta di hati.
*Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara Periode 2026-2030